Stories

Ada apa dengan Tuna?

Eksploitasi tuna dunia berjalan lepas kendali. Stok ikan di lautan terkuras, kehidupan satwa laut terancam dan perbudakan merajalela. Kapal Greenpeace Rainbow Warrior sekarang berlayar menuju Lautan Pasifik dengan misi membawa pesan tegas kepada industri tuna: kini saatnya melakukan perubahan!

- - -

Ada apa dengan Tuna?

Stok ikan di lautan terkuras, kehidupan satwa laut terancam dan perbudakan merajalela. Kapal Greenpeace Rainbow Warrior sekarang berlayar menuju Lautan Pasifik dengan misi membawa pesan tegas kepada industri tuna: kini saatnya melakukan perubahan!

Jika ikan tuna adalah makanan laut favorit kamu, kemungkinan besar itu berasal dari Lautan Pasifik, dimana wilayah laut Indonesia juga terhubung tanpa batas dengan lautan ini.

Sebagai lautan terluas dan terdalam di dunia, Pasifik adalah kawasan penangkapan ikan tuna terbesar di bumi ini.

Namun cara industri melakukan penangkapan ikan di Pasifik menyebabkan tuna dalam ancaman. Ribuan kapal penangkap ikan dari berbagai belahan dunia perlahan namun pasti sedang menguras stok ikan di lautan ini.

Industri melakukannya dengan cara apapun. Tangkapan ikan ilegal, cara penangkapan tidak berkelanjutan, perbudakan pekerja di atas kapal, bahkan menangkap dan mengancam apapun termasuk hiu serta satwa laut lain yang dilindungi. Kondisi di lautan seperti sering tanpa hukum dan tanpa perikemanusiaan.

Perilaku bisnis yang mengancam masa depan bisnis itu sendiri selamanya bukanlah tindakan yang bijak dan bertanggungjawab, tetapi cara itulah yang mereka lakukan.

Stok sejumlah jenis tuna menurun drastis. Tuna Mata Besar dan Albakora tercatat sebagai jenis yang paling rentan atau mendekati terancam, adapun stok Tuna Sirip Biru di Pasifik saat ini telah berada di ambang kehancuran. Saat ini juga pelanggaran hak asasi manusia lazim terjadi pada industri perikanan. Beberapa kapal ikan menjadi wahana perbudakan. Banyak masyarakat pesisir kehilangan ikan, pekerjaan dan pendapatan.

Industri perikanan tuna dunia memicu krisis dan berada dalam pusaran krisis tersebut. Kondisi ini tidak hanya kehancuran bagi lautan, tetapi juga bagi kemanusiaan. Greenpeace bertekad untuk membalik krisis ini menjadi harapan dan kemenangan bagi masa depan laut dan generasi kita ke depan.

Greenpeace ingin mendesakkan perubahan mendasar bagaimana tuna ditangkap sehingga kita bisa memastikan bahwa tuna yang terhidang di meja makan ditangkap dengan cara yang baik dan bertanggungjawab. Kita yakin bahwa perubahan bagi tuna adalah mungkin dan tuna bisa selamat dari kepunahan.

Untuk itu, saat ini Greenpeace melakukan dua hal penting ini. Pertama, kami meluncurkan website kampanye global bagi penyelamatan tuna untuk menghimpun dukungan masyarakat luas. Kedua, aktivis Greenpeace berlayar di lautan di Pasifik untuk menyaksikan secara langsung bagaimana industri perikanan tuna dunia terus melakukan kecurangan dan  perbudakan.

Saat ini juga, aktivis Greenpeace dari Indonesia, Adhonian Canarisla (akrab disapa Adhon) turut berlayar bersama aktivis Greenepace lainnya di atas Kapal Rainbow Warrior, berangkat dari Selandia Baru mengarungi Lautan Pasifik. Mereka akan menjadi saksi langsung praktek perikanan tuna di laut lepas. Mari ikuti terus perkembangan ekspedisi Rainbow Warrior di Pasifik.

Bulan-bulan mendatang akan menjadi jendela waktu yang penting. Di swalayan, restoran makanan laut, forum sidang internasional bahkan di lautan, dengan dukungan Anda, Greenpeace akan terus berjuang untuk keberlanjutan perikanan tuna dan kesehatan laut dunia.

Pastikan Anda jadi bagian yang mendorong terjadinya perubahan penting bagi perikanan tuna berkelanjutan dan bebas dari perbudakan!

Arifsyah Nasution — Juru Kampanye Laut Greenpeace Indonesia